Senin, 27 September 2010

Manusia Indonesia Kehilangan Harga Dirinya

          Tatkala bangsa ini sudah menginjak tenggang  waktu selama satu windu dalam keterpurukan, banyak orang yang mulai sadar bahwa pada galibnya bangsa ini  telah kehilangan miliknya yang paling berharga yang disebut harga diri. Banyak orang  yang sudah merindukan  kapan bangsa ini   bakal menemukan jati dirinya  sendiri, kembali kepada pribadi ke Timuran yang , memiliki jati diri yang sarat dengan nili-nilai  adiluhung. Mungkin orang ingat bahwa  dulu bangsa ini pernah jaya lantaran memiliki identitas diri sebagai bangsa yang beradab, bangsa yang berjiwa ksatria sejati. Bangsa yang  punya malu tidak “rai gedkek”.Orang masih mengharapkan bahwa pada suatu saat akan datang hidayah dari Tuhan berupa petunjuk dan kekuatan   yang mampu membangkitkan kesadaran  manusia  untuk kembali kejalan yang benar dan terhindar  dari kesesatan . Sebenanrnya Tuhan dengan firmannya dalam QS.At Tahriim 8 telah memerintahkan “Hai orang-orang yang beriman bertobatlah kepada Allah” dan QS.Al Infikaar  6 “ Hai manusia apa yang telah memperdayakan kamu berbuat durhaka terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah” Hanya saja seruan Tuhan itu masih juga belum terdengar oleh telinga yang tuli. Akibatnya apa yang diharap=harapkan tidak juga kunjung tiba.

Padahal dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih, mestnya  orang dapat melakukan dakwah yang lebih praktis, intensif dan mendunia. Tetapi apa hasilnya yang dapat kita lihat pada dewasa ini? Orang  hanya pandai beradu mulut, bersilat lidah dan bermain politik. Nampaknya kepandaian orang sudah salah sasaran, Tuhan pun juga dijadikan obyek bahkan sudah dikelabuhi terang-terangan .Nampaknya orang sudah lupa bahwa Tuhan adalah Dzat yang Maha Lembut, Yang Maha Halus. Bahkan suara harus direndahkan dan dikendalikan serta bila perlu disembunyikan, tidak malah diumbar sejadi-jadinya.Berulang kali Tuhan mengingatkan manusia agar tidak arogan dan melampaui batas. Sebab Tuhan  tidak senang dengan orang yang ugal-ugalan. Semua harus dilakukan dalam batas kesopanan . Apalagi bernada keras, memerintah atau menyuruh dalam hal memohon sesuatu pada-Nya. (QS.Al A’raaf 55, Asy Syura 51 dan Al Anbiya’ 90). Sebagai seorang Muslim, kita harus tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan Tuhan dan bagaimana etika Islami mengatur semuanya itu.. Kita harus belajar , sebab apabila kita tidak mengenal seluk-beluk mengenai hal itu, kita tidak mungkin dapat  berinteraksi dengan Tuhan. Kita harus mafhum bahwa bahasa Tuhan adalah bahasa wahyu bukan bahasa bisik-membisik ditelinga. Bahasa Tuhan adalah bahasa Hati. Yang mendengar adalah hati nurani  yang paling dalam,  bukan telinga.

 Orang sekarang tidak lagi mau susah payah melakukan Adzan  tanpa alat elektronik. Adzan maupun pengajian baik di masjid-masjid maupun ditempat ta’ziah  digelar  dan dikumandangkan  dengan menggunakan kaset dian pengeras suara yang suaranya menggema memekakkan telinga, bahkan bisa menimbulkan gangguan bagi orang yang sedang nyenyak tidur dan orang yang sedang menderita sakit. Kapan  etika Islami yang telah diajarkan Tuhan lewat Al Qur’anul Karim dapat meresap dalam sanubari  umat manusia? Kapan umat manusia kembali pada jati dirinya sebagai makhluk yang beradab, yang tahu malu.Tuhan telah berfirman dalam QS.Yunus 57 “Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhan-Mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada didalam dada serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. Sekarang yang perlu dipertanyakan adalah kapan orang akan malu apabila melanggar hukum , malu bila masuk penjara , malu bila melakukan korupsi , malu kepada anak isteri bila mencari nafkah untuk menhidupi mereka  dengan cara  mencuri milik orang lain atau milik negara. Bisa jadi kelak apabila kesadaran itu sudah datang menghampiri,  anak isterinya akan memilih kelaparan dari pada makan rizki yang haram hasil curian. Anak isteri akan memilih tinggal dirumah sederhana dari pada diam dirumah gedongan  yang mewah dan megah tetapi  tidak merasakan adanya kebahagiaan, karena memang bukan hasil jerih payah dan cucuran keringatnya sendiri.. Anak-anak pergi sekolah  lebih  suka dan merasa bahagia naik sepeda onthel bersama teman-temannya, dari pada  diantar jemput dengan mobil mewah.

Dengan hidayah itu, manusia akan mwenyadari bahwa dirinya tidak lebih dari hamba Tuhan seperti halnya yang lain; sebagai makhluk yang lugu, sederhana, mencintai diri secara spontan , termasuk kepada sesamanya.Tidak egois dan altruis. Tidak ada nafsu saling menyerang dan memusuhi.Tidak saling lirik, saling ancam dan adu jotos. Tidak ada  suara kasar dengan lengking seperti keledai dalam perdebatan. Semua dilakukan layaknya orang yang beradab. Manusia Indonesia bakal memasuki era baru, yaitu era keberadaban yang hakiki
 Orang  dengan kesadaran dan nuraninya akan bergegas untuk meninggalkan naluri kebinatangan seperti  apa kata Thomas Hobes , seorang filsuf Barat yang  berpendapat bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya, “Homo Homini Lupus” . yang akibatnya terjadi perang saudara yang tiada akhir, karena dendam kesumat itu memiliki rantai yang sulit untuk diputuskan sampai turun-menurun , sehingga  memakan kurun waktu yang tidak mungkin diperhitungkan. Akhirnya terjadi perang antar semua melawan  semua (Bellum Omnium Contra Omnes). Manusia hidup layaknya serigala ditengah  habitatnya .Manusia hanya ditengarai dengan fisiknya, tetapi wataknya seperti serigala yang buas dan ganas. Manusia kehilangan peradabannya dan akhirnya peradaban itu musnah dari muka bumi.
 Gambaran seperti  itu telah  terjadi secara bertubi-tubi di negeri ini termasuk yang terjadi akhir-akhir ini  di Poso dan Mimika. Betul juga kata Pitagoras bahwa amarah itu dimulai dari pikiran yang tidak sempurna dan berakhir dengan penyesalan. Mungkinkah saat ini mereka sudah menyesal, meski sudah saling bersalaman? Apakah dihatinya sudah betul-betul bersih  dan tidak saling  serang lagi? Inilah pertanyaan yang patut dicatat oleh para aparat yang berwajib. Siapa tahu malapetaka semacam itu akan datang kembali.
Keadaan seperti ini tetap akan terulang kembali selama manusia Indonesia kehilangan harga dirinya. Sehingga tidak mampu berperan untuk  mencari solusi atas masalahnya sendiri , yang dihadapi dalam hidup ini. Ini sebagai akibat mereka telah meninggalkan  prinsip-prinsip  dalam berinteraksi, dimana kejujuran, saling percaya dan saling menghargai sudah jauh ditinggalkan. Akibatnya orang  tidak mampu menganalisis dan mengevaluasi keadaan, mencari alteernatif solusi maupun m,enentukan solusi yang terbaik atas suatu masalah. Pasalnya kemampuan berpikirnya sudah diliputi oleh kegelapan yang ditimbulkan oleh amarah. Semua sudah buta  dan tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hatinya sudah menjadi gelap, sungguh-sungguh gelap gulita.

MANFAAT  HARGA DIRI.

          Banyak orang yang tidak tahu apa manfaat dari harga diri. Padahal apabila Anda memiliki harga diri, berarti Anda telah memiliki berteng yang kuat guna menangkis serangan dari pihak lain. Anda telah memiliki jaminan yang melekat pada diri Anda. Tidak perlu lagi mencari  jaminan kemana-mana. Sebab eksistensi Anda dengan nilai diri pribdi Anda sudah cukup untuk menjadi jaminan.
Lebih dari itu , menurut penuturan para ahli bahwa  apabila Anda memiliki harga diri, sebenarnya Anda telah terbebas dari rasa cepat marah, murung, sedih, kelelahan pikiran, tidak tenang dan perasaan kacau balau. Disamping itu harga diri  menurut ahlinya dapat meng-antisipasi suasana yang lebih kritis dari emosi, yaitu : depressi, kekerasan dan kebrutalan, , panik atau phobi, maupun berbagai serangan penyakit syarat.
Dan yang utama adalah bahwa hidup tanpa harga diri bisa berakibat fatal. Karena hidup tidak punya nilai. Citra diri merosot berada pada level yang sangat rendah. Orang gagal dalam menjalani hidup dan kehidupan dimasyarakat, bisa jadi malah dikucilkan dan akhirnya menjadi sampah masyarakat. Bisa jadi hidupnya berkeliaran di jalanan menjadi papariman atau pengemis  dan harga dirinya lebih rendal dari  daun jati kering. Hilang sudah bekas-bekasnya sebagai manusia.Oleh sebab itu jangan sekali-kali milik yang paling berharga itu dilepaskan atau digadaikan. Akhirnya Anda akan menyesal sepanjang masa.

Yang Lebih Penting Kualitasnya

Akuilah kelemahan dan kekerdilan sendiri, tanpa mericuhkan hal-hal kecil yang kurang berarti bagi kemajuan al Islam. Jadikan Islam yang maju luar dalam, baik dalam kuantitas maupun kualitas, jangan sampai menyempitkan sifatnya yang universal yang membawa dan menebarkan rahmat ke seluruh alam semesta, ingat  visi  Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
          Kita  jangan terlalu menghitung jumlah atau besarnya prosentase, tapi yang lebih penting adalah kualitasnya. Setiap tahun jumlah haji terus bertambah dengan ratusan ribu, Masjid dan Mushalla serta pondok pesantren bertaburan di seluruh penjuru tanah air, tetapi kenyataannya akhlaknya masih belum standar. Kita tidak perlu bangga dan menepuk dada dengan besarnya prosentase penganut ajaran Islam, tetapi kita harus melihat fakta yang terjadi di masyarakat Islam sendiri. Apakah kita tidak malu kalau ada seorang Menteri Agama masuk penjara , kalau ada dana abadi umat yang tidak jelas pertanggung-jawabannya, tidak digunakan untuk umat, tetapi untuk dirinya sendiri, kalau jemaah haji dijadikan sapi perah untuk kemakmuran dirinya?
          Di samping itu masih ada saja sosok  Kyai yang ganti profesi, terjun ke dunia politik, dengan maksud mencari kekusaan dan ujung-ujungnya hanya untuk mengejar harta kekayaan alias kiblatnya sudah berubah tidak pada  kemuliaan ukhrawi tapi pada gebyar gemerlapnya  duniawi.  Padahal kata orang,  politik itu kotor, karena penuh dengan  rekayasa, suka bermain silat lidah, suka  berani mengatakan yang dia tidak mengetahui keadaan sebenarnya, harus bisa mencela, merendahkan dan melecehkan, juga menghujat dan melaknat  rival politiknya. Akhirnya kondisi mentalnya busuk, karena terkontaminasi oleh najis yang bercokol dan membutakan hatinya.
          Akibatnya sudah jelas  para santri kehilangan panutan, lantas mengikuti aliran sesat yang banyak muncul, yang menjanjikan syurga  dengan cara yang mudah, malah ada yang terang-terangan menawarkan asal membayar empat juta rupiah, dijamin masuk syurga. Yang lebih berbahaya bila terkena pengaruh masuk aliran garis  keras, melakukan jihad sesat, dengan cara meledakkan diri dengan bom, karena tergiur oleh  iming-iming akan dikawinkan dengan bidadari dari Syurga. Apakah tidak kasihan terhadap generasi muda yang jalan hidupnya banyak tersesat karena tidak memperoleh bimbingan rohani yang benar?
Oleh karena itu jangan memandang remeh terhadap timbulnya berbagai aliran sesat yang bisa  menjerumuskan umat kedalam jurang kehinaan. Inilah tantangan yang harus dihadapi secara komprehensif. Jangan asal melakukan tindakan yang kurang berarti, aoakagi yang bisa menimbulkan perasaan anti pati terhadap komunitas Islam, karena perilakunya yang tidak terpuji. Kalau Tuhan sudah memberi pertunjuk agar berlaku sopan dan mengasihi sesama, apa artinya semua perbuatan destruktif yang telah kalian perbuat?

Iman itu Naik dan Turun

Yang namanya iman itu menurut para ulama bisa naik dan bisa juga turun, meskipun sudah menjalankan shalat lima waktu dan shalat Jum’at di Masjid dan oleh khatib selalu diingatkan pentingnya iman dan taqwa. Ternyata khotbah yang monoton itu mudah membius jamaah tertidur pulas saat “khusuk” mendengarkan khutbah Jum’at. Biasanya hanya terdengar kata iman dan taqwa saja, sedang materi yang lebih penting isinya sudah tidak mendengar lagi.
Saya pernah bertanya kepada seorang Kepala KUA Kecamatan, berapa jumlah staf di kantornya. Ternyata hanya satu orang. Coba bandingkan dengan  banyaknya personil yang membina otak secara kognitif di tiap kecamatan. Yang jumlahnya lebih banyak. Nampak jelas bahwa tidak ada keseimbangan antara yang membina otak agar memiliki kecerdasan  dan yang membina akhlak agar memilki akhlak yang mulia, sehingga terjadi kesenjangan antara keduanya, padahal semestinya harus seimbang antara yang berifat akal dan yang  mental-spiritual.
 Ternyata bukan kaum awam saja yang imannya kadang-kadang turun, seorang ustadz atau kyai pun imannya kadang bisa turun. Oleh karena itu, Anda tidak perlu khawatir kalau shalat Anda dinilai belum sempurna, lakukan terus dengan khusuk dan tulus ikhlas, meskipun rasanya masih ada yang kurang, nanti tentu akan mendekati kesempurnaan.  Sebab yang menilai kadar keimanan Anda adalah bukan Ustadz atau Kyai tapi Tuhan sendiri.
Demikian juga yang bisa memberi hidayah itu bukan Ustadz atau Kyai, tetapi Tuhan sendiri. Dan saya ingatkan Anda jangan terlalu mendewa-dewakan seorang Kyai dengan menyembahnya melebihi menyembah Tuhan, apalagi dikultuskan, bicaranya selalu diagungkan dengan menyebut sebagai “fatwa” yang harus diikuti, sami’na wa ata’na, meskipun yang dikatakan tidak benar, katanya takut kalau kualat, kualat apanya? Sedang Nabi Muhammad sendiri tidak mau di kultuskan.
          Jangan bermimpi tentang negara Islam di negeri ini, buang jauh-jauh pikiran bodoh itu, sebab yang lebih penting kini sudah saatnya kita membenahi diri dalam melakukan syi’ar Islam yang benar, agar tidak tersanjung dengan jumlahnya, tetapi yang lebih penting kualitasnya. Sudah waktunya kita tinggalkan cara-cara yang dogmatis tradisional, karena cara itu sudah terlalu usang dan sudah jauh tertinggal dibanding kemajuan yang dicapai akal manusia. Ilmu pengetahuan telah jauh berada di depan, sedang dakwah al Islam masih itu-itu juga.
Sudah saatnya kita umat Islam mendewasakan diri, dengan merubah dengan cara baru yang lebih kreatif, intelek dan berpikiran lebih maju. Memperbaiki diri dengan melakukan introspeksi kedalam, tidak perlu menyalahkan orang lain atau mencari kambing hitam untuk menyudutkan pihak manapun.

Yakin Akan Keesaan Allah

Tidak sedikit orang yang telah mengucapkan kalimah syahadat, namun masih belum mengerti tentang ke Esaan Tuhan , sehingga apa yang dilakukan tanpa disadari  telah menyekutukan Tuhan. Padahal barang siapa yang menyekutukan Tuhan dengan apapun, termasuk dosa besar yang tiada berampun. Guna memahami ke Esaan-Nya perlu di sini dinukilkan beberapa  firman-Nya  sebagai   berikut :
“ Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa , tidak ada Tuhan selain Dia. Dialah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang” [QS.al Baqarah 163 ]

Ayat ini dengan jelas menerangkan bahwa Tuhan adalah bersifat Esa, dan tidak ada Tuhan lain selain dari Dia. Sedang ayat berikut ini menjelaskan bahwa Tuhan itu tidak ada yang menyerupai atau menyamai-Nya.. Sehingga tidak perlu menggambarkan wujudnya dengan barang sesuatu. Dia melihat Anda tapi Anda tidak dapat melihat Dia. Tetapi keberadaan-Nya dapat dirasakan  secara spiritual atau secara batiniah, it feel spiritually.

“Tiada yang seumpama-Nya  satupun dan Dia Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui “ [ QS. Asy  Syura : 11 ]
Berikut saya hadirkan satu ayat yang memiliki keistimewaan. Ayat ini mempunyai sebutan “Ayat Kursi“, yang  memiliki hikmah yang sangat besar. Ada satu mu’jizat dari ayat tersebut, karena terdiri dari 10 kalimah yang 18 kali menyebut  asma Allah dan berisi penekanan  sifat Allah, yaitu sifat Wahdaniyah, Yang Maha Esa dengan dua sifatnya  al Hayyu dan al Qayyum Yang  Hidup dan tidak pernah tidur (terjaga) serta  kekal abadi. Isi ayat tersebut memuji  tentang  tiga hal; yaitu: pengakuan tentang Ke-Esaan Allah, dengan sifat-sifat-Nya yang Tinggi dan pengakuan bahwa Allah Mahatinggi. Ayat ini merupakan harta karun yang diwariskan Tuhan kepada manusia. Tiap huruf diberkati, kalimatnya juga diberkati. Ini merupakan ayat yang mulia dan terbesar. Manfaatnya sangat banyak antara lain menjauhkan dari malapetaka, memberi kemudahan bagi yang sedang kesulitan, menghilangkan kesedihan, memberi harakah atau kemudahan dalam mencari rizki dan pahala masuk syurga.  Coba perhatikan lafal ayatnya sebagai berikut:

“ Allah, tak ada Tuhan  , melainkan Dia. Ia hidup, berdiri  memelihara  semesta alam , tiada Ia mengantuk dan tiada pula tidur. Baginya apa-apa yang ada di langit dan di bumi . Tidak ada yang memberi bantuan pertolongan disisi-Nya Dia mengetahui apa-apa yng ada di hadapan mereka dan apa-apa yang ada di belakang mereka,. Mereka tidak mengetahui sesuatu pengethuan, melainkan dengn kehendak-Nya. Kursi-Nya ( ilmu-Nya), kerajaan-Nya) meliputi llangit dan bumi dan tiada susah bagi-Nya memelihara  keduanya. Dia Mahatinggi lagi Mahabesar”.[ QS. al Baqarah 255 – ayat Kursi ]    

Selanjutnya pernyataan Tuhan dalam QS. Thaha 6 berikut ini menegaskan bahwa Dia adalah Allah, tidak ada Tuhan lain dari–Nya, dan Dialah yang harus kita sembah, bukan yang lain. Adapun caranya menyembah antara lain dengan mendirikan shalat , agar kita selalu dapat mengingat-Nya. Dan pada QS. Thaha 8, diterangkan bahwa Tuhan memiliki beberapa nama yng terbaik.

“ Sesungguhnya Aku-lah Allah, tidak ada Tuhan kecuali Aku. Sebab itu sembahlah Aku dan dirikan shalat untuk mengingat -Ku”. [ QS. Thaha 6 ]
”( Dia ) Allah , tidak ada Tuhan , kecuali Dia.Baginya ada beberapa nama yang terbaik [ QS. Thaha 8]. 
      “ Sesungguhnya Tuhanmu hanya satu, [QS.Ash Shaaffaat 4 ].” Tuhan langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dan Tuhan beberapa timur”.[QS. As Shaffaat 5 ] “Yang Maha Penyayang itu bertahta diatas Arsy. [ QS. Thaha 5 ]
           
          Kemudian dalam QS. Ash Shaffaat  (4) dan (5) serta QS. Thaha (5)  di atas ini, menjelaskan bahwa hanya  Tuhan  sendirian tanpa dibantu oleh siapapun  yang telah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya, termasuk manusia dan makhluk hidup yang lain. Dan Dia bertahta di atas Arsy yang Agung.
          Banyak ayat yang menerangkan tentang ke Esaan Allah, namun dengan ayat-ayat tersebut di atas, kiranya cukup memberi penjelasan kepada kita tentang pengertian tauhid atau  ke Esaan Tuhan, bahwa hanya Allah sendirian yang harus kita sembah, caranya dengan melakukan shalat untuk mengingatnya. Maka sebetulnya kalau setiap hari kita melakukan shalat sebanyak lima kali dalam lima waktu, kiranya kita akan selalu ingat akan ke Esaan-Nya.
Dan pada saat kita melakukan shalat itu, tidak kita tujukan kepada selain Allah , seperti yang telah difirmankan Tuhan dalam QS. al An’Am 162 yang lafal tarjamah-nya sebagai berikut :

“ Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku , semuanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.”. [ QS. al An’Am 162 ]

  Pada saat kita menjalankan shalat wajib,  kita awali dengan pernyataan bahwa shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah. Dengan melakukan shalat secara khusuk, niscaya iman kita akan terjaga, sebab kita selalu ingat kepada-Nya. Lebih dari itu kita telah mengikrarkan diri bahwa semua yang kita lakukan adalah hanya unrtuk Allah, bukan untuk yang lain.

Jumat, 24 September 2010

Jangan Berlebih-lebihan & Melampaui Batas

Seorang yang imannya berkualitas selalu memegang komitmen  bahwa rahmat Allah bukan monopoli atau milik seseorang, tetapi untuk seluruh  alam semesta.Bahkan sebagian dari harta pemberian Allah  yang Anda miliki adalah hak orang lain yang harus ditunaikan . Oleh karena itu tidak dibenarkan kalau orang hidup berlebih-lebihan, sehingga melampaui batas. Perbuatan menumpuk harta kekayaan, padahal bagian besar yang  lain dalam kemiskinan dan
kelaparan adalah sangat tidak etis dan bertentangan dengan prinsip dasar al Islam rahmat untuk seluruh alam semesta , rahmatan lil ‘alamin.
 Allah telah memperingatkan kepada manusia agar tidak hidup bermegah-megah, menjalani kehidupan  dengan kemewahan sampai masuk kedalam kubur. Silahkan dicermati peringatan Allah itu. Wanti-wanti itu  diulangi sampai tiga kali   seperti fiman-Nya dalam  QS., at Takatsur (3), (4) dan (5) : “ Jangan begitu !” Dan pada ayat  terakhir (8),  Allah menegaskan bahwa :
“ Kamu pasti diminta pertanggung jawaban  atas kemewahan yang telah kamu nikmati itu”
Jangan dikira kalau kelak Anda bebas dari tanggung jawab, selanjutnya  apabila
tanggung jawab itu tidak memenuhi ketentuan ,  buku catatan dan rekaman perbuatan itu diberikan dari sebelah kiri, niscaya Anda akan menerima sangsi yang berupa siksa neraka yang berat.
 Dalam firman-Nya pada  QS.an Nahl (117), Allah juga ditekankan bahwa kesukaan sedikit di dunia, untuk mereka siksa yang pedih, sangsinya sama dengan  orang yang suka berdusta .
          Allah juga mengingatkan  kepada kita, agar tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Thaha (81) yang lafalnya sebagai berikut :
          Makanlah rejeki yang baik yang Kami berikan kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas, nanti kamu ditimpa kemarahan-Ku Barang siapa yang ditimpa kemarahan-Ku , niscaya jatuhlah  ia kedalam neraka” (QS.Thaha 81).

Keuntungan Orang-orang yang Beriman

Tuhan memberi pahala kepada orang-orang beriman dalam berbgai macam bentuk, sehingga banyak keuntungan yang diperoleh dari Allah. Diantaranya sebagai  berikut :
          a. Orang-orang yang beriman oleh Allah diberi kehidupan yang baik dan di beri pahala yang berlebih baik seperti firman-Nya dalam QS. An Nahl 97 berikut :
         
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, niscaya Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan Kami balasi mereka dengan pahala yang terlebih baik dari apa yang telah mereka amalkan”. (QS.  an Nahl 97).
          b. Orang-orang yang beriman dipertahankan Allah , seperti firman-Nya dalam QS. Al Hajji (38) berikut :
          “Sesungguhnya Allah mmempertahankan oranga-orang yang beriman .Sesungguhnya Allah tidak mengasihi tiap-tiap orang yang khianat dan kafir”. (QS.al Hajji 38).
          c. Orang-orang beriman ditunjuki hatinya oleh Allah, seperti firman-Nya dalam QS. At Taghabun (11), yang lafalnya sebagai berikut :
          “Seseorang tidak ditimpa malapetaka atau musibah  , melainkan dengan ijin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah , ditunjuki Allah hatinya. Allah Mahamengetahui tiap-tiap sesuatu”.(QS.At Taghabun 11).

Pendekatan Spiritual Lewat Moral Islami

Iman yang  berkualitas akan menyadarkan kita bahwa hidup di dunia hanya bersifat sementara dan kelak di yaumil akhir kita akan menghadapi sidang akbar, Allah akan  mengadili perilaku kita selama hidup di dunia. Pada waktu itu kamera Ilahiyah akan ditayangkan dilayar lebar dunia yang akan mempertontonkan semua perilaku kita. Siapa yang pernah melakukan korupsi juga kelihatan gambarnya, apa tidak malu?
 Iman kita juga akan  membimbing kita untuk melihat kedepan bahwa kelak ada kehidupan yang lebih baik yang bersifat kekal dan abadi, yang bekalnya harus kita cari dan kita  kumpulkan selagi kita masih hidup di dunia . Adapun bekal itu adalah berupa  amal kebaikan dan amal kebaikan itu harus di lakukan dengan pengabdian, perjuangan dan pengurbanan yang tulus ikhlas. Allah telah berfirman dalam QS. Al Baqarah (82) yang lafalnya sebagai berikut:


“Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka itu penghuni syurga, sedang mereka kekal didalamnya”(QS.al Baqarah 82).
Ayat lain yang mirip dengan ayat ini adalah firman Allah dalam QS.al Bayyinah (7) dan (8). Yang kalimahnya demikian :
“ Sesungguhnya oorang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka itulah orang yang sebaik-baiknya” (QS.al Bayyinah 7).
“ Balasan untuk mereka disisi Tuhan-Nya ialah Syurga Aden , yang mengalir air sungai dibawahnya, sedamg mereka kekal di dalamnya.... “ (QS.al Bayyinah 8)
Masih ada  ayat yang senada dengan ayat diatas ialah yang tercantum dalam firman Allah pada QS. Al Kahfi 107 yang lafal tafsirnya sebagai berikut :
          Sesungguhnya  orang-orang yang beriman dan mengerjakan yang baik-baik, untuk mereka Syurga Firdaus sebagai tempat tinggalnya” (QS.al Kahfi 107).

Dengan tiga ayat yang dikutip diatas ,cukup memberikan pengertian dengan jelas  kepada kita bahwa pahala bagi orang yang beriman dan beramal shaleh sudah dapat dipastikan , yaitu Syurga Firdaus sebagai tempat tinggalnya. Tentunya iman yang sudah memiliki kualitas prima dan amal shaleh yang dilakukan dengan tulus ikhlas, lillahi ta’ala,  hanya karena kebesaran dan keagungan Allah Swt. Apabila masih diperlukan referensi, dipersilahkan untuk mengikuti firman Allah dalam QS. Hud (33) , QS. Yunus (9),QS.al Hajji (23) , (24) , Qs.As Sajdah (19) dan QS.Thaha (75), (76) yang substansinya sama dengan ketiga ayat diatas.